Pengertian Stakeholder

Pengertian Stakeholder 
Perusahaan merupakan unit bisnis yang keberadaannya tak dapat dilepas dari lingkungan masyarakat sekitar. Untuk itu, ekesistensi perusahaan harus sesuai (congrience) dengan harapan masyarakat sekitar. Secara teoretis, cakupan stakeholder (pemangku kepentingan) dijelaskan dalam teori Stakeholder. Menurut Hummels (1998) dalam Hadi (2011:103), Stakeholder are individuals and groups who have legitimate claim on the organization to participate in the decission making process simply because they are affected by the organization’s practices, policies and actions.

Rhenald Kasali (2005) dalam Hadi (2011:104) membagi stakeholder menjadi lima bagian, yaitu :
1. Stakeholder Internal adalah stakeholder yang berada di dalam lingkungan organisasi/perusahaan/instansi, misalnya karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholder). Stakeholder Eksternal adalah stakeholder yang berada di luar lingkungan orgnisasi/perusahaan/instansi, seperti penyalur atau pemasok, konsumen atau pelanggan, masyarakat, pemerintah, pers, kelompok investor, licening partner dan lain sebagainya.

2. Stakeholder Primer merupakan stakeholder yang harus diperhatikan oleh organisasi/perusahaan/instansi dan Stakeholder Sekunder merupakan stakeholder yang kurang penting sedangkan Stakeholder Marjinal merupakan stakeholder yang sering diabaikan oleh organisasi/perushaan/instansi.

3. Stakeholder Tradisional adalah karyawan dan konsumen karena saat ini sudah berhubungan dengan organisasi/perusahaan/instansi. Sedangkan Stakeholder Masa Depan adalah stakeholder pada masa yang akan datang diperkirakan akan memberikan pengaruh pada organisasi/perusahaan/instansi, seperti peneliti, konsumen potensial, calon investor (investor potensial) dan lain-lain.

4. Stakeholder Prononents merupakan stakeholder yang berpihak kepada perusahaan, stakeholder opponents merupakan stakeholder yang tak memihak perusahaan, sedang stakeholder uncommited adalah stakeholder yang tak peduli lagi terhadap perusahaan.

5. Silent majority dan vocal minority. Dilihat aktivitas stakeholder dalam melakukan komplain atau mendukung perusahaan, tentu ada yang menyatakan penentangan atau dukungannya secara vokal (aktif), namun ada pula yang menyatakan secara silent (pasif).

Teori Stakeholder
Perusahaan tidak hanya sekedar bertanggung jawab terhadap para pemilik atau pemegang saham (shareholder) sebagaimana yang terjadi selama ini, tetapi bergeser menjadi lebih luas, yaitu sampai pada ranah sosial kemasyarakatan (stakeholder), selanjutnya disebut tanggung jawab sosial (social responsibility). Fenomena seperti itu terjadi karena adanya tuntutan dari masyarakat akibat negative externalities yang timbul serta ketimpangan sosial yang terjadi. Untuk itu, tanggung jawab perusahaan yang semula hanya diukur sebatas pada indikator ekonomi (economic focused) dalam laporan keuangan, kini harus bergeser dengan memperhitungkan faktor-faktor sosial (social dimentions) terhadap stakeholder, baik internal maupun eksternal.

Jones, Thomas dan Andrew dalam Hadi (2011:94) menyatakan bahwa pada hakikatnya stakeholder theory mendasarkan diri pada asumsi, antara lain :

1. The corporation has relationship with many constituenty groups (stakeholder) that effect and are affacted by its decisions (Freeman, 1984).

2. The theory is concerned with nature of these relationship in terms of both processes and outcomes for the firm and its stakeholder.

3. The interests of all (legitimate) stakeholder have intrinsic value and no set of interests is assumed to dominate the others (Clakson, 1995; Donaldson & Preston 1995).

4. The theory focuses on managerial decision making (Donaldson & Preston 1995).

Berdasar pada asumsi dasar stakeholder theory tersebut, perusahaan tidak dapat melepaskan diri dengan lingkungan sosial (social setting) sekitarnya. Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder serta mendudukkannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung dalam pencapaian tujuan perusahaan, yaitu stabilitas usaha dan jaminan going concern.

Esensi teori stakeholder tersebut di atas jika ditarik interkoneksi dengan teori legitimasi yang mengisyaratkan bahwa perusahaan hendaknya mengurangi expectation gap dengan masyarakat (publik) sekitar guna meningkatkan legitimasi (pengakuan) masyarakat, ternyata terdapat benang merah. Oleh karena itu, perusahaan hendak menjaga reputasinya, yaitu dengan menggeser pola orientasi (tujuan) yang semula semata-mata diukur dengan economic measurement yang cenderung shareholder orientation, ke arah memperhitungkan faktor sosial (social factors) sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan terhadap masalah sosial kemasyarakatan (stakeholder orientation).

ads

Ditulis Oleh : ericson damanik Hari: 06.19 Kategori:

 

Blogger news

Pengikut