Pengertian Masalah

Pengertian Masalah
Dalam perspektif psikologi, masalah atau problem pada dasarnya adalah situasi yang mengandung kesulitan bagi seseorang dan mendorongnya untuk mencari solusinya (Gorman, 1974: 293–294). Terdapat beberapa jenis masalah, yaitu: 1) masalah yang prosedur pemecahannya sudah ada dan telah diketahui oleh siswa; 2) masalah yang prosedur pemecahannya belum diketahui oleh siswa, meskipun orang lain telah mengetahuinya; 3) masalah yang sama sekali belum diketahui prosedur pemecahannya dan atau belum diketahui data yang diperlukan untuk mencari solusinya. Lester (1980: 287) mendefinisikan masalah sebagai situasi dimana seseorang atau sekelompok orang diminta untuk menyelesaikan sebuah tugas yang belum tersedia algoritma yang sesuai sebagai metode penyelesaiannya.

Tidak semua persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan masalah. Menurut Cooney (Fadjar Shadiq, 2004: 10) “… for a question to be a problem, it must present a challenge that cannot be resolved by some routine procedure known to the student”. Maknanya adalah suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui si pelaku. Posamentier & Stepelman (1990: 109) menyatakan bahwa “A problem poses a situation in which there is something you want but don’t yet know how to get”. Maknanya, masalah adalah sesuatu yang menimbulkan situasi dimana ada sesuatu yang dituju atau inginkan, tetapi tidak tahu bagaimana mendapatkannya atau mencapainya.

Masalah atau problem bukanlah latihan-latihan soal rutin yang biasa diberikan dalam kelas melainkan masalah-masalah non rutin yang belum diketahui prosedur pemecahannya. Menurut Stanic & Kilpatrick (Schoenfeld, 1992: 338), “… nonroutine problem solving is characterized as a higher level skill to be acquired after skill at solving routine problems (which, in turn, is to be acquired after students learn basic mathematical concepts and skills).” Maknanya, masalah non rutin merupakan masalah yang belum diketahui prosedur penyelesaiannya. Untuk mencari pemecahannya diperlukan keterampilan yang lebih tinggi, yang dapat diperoleh siswa setelah mereka memiliki pemahaman konsep dan keterampilan dasar matematika, serta memiliki keterampilan memecahkan masalah-masalah rutin.

Masalah non rutin dikategorikan menjadi tiga, yaitu modified translation problems, process problems, dan open-ended and project problems. Modified translation problems merupakan translasi masalah dengan informasi yang kurang, process problems merupakan masalah non standar yang memerlukan satu atau lebih strategi untuk memecahkannya dan lebih memerlukan kemampuan logika, sedangkan open-ended and project problems merupakan masalah terbuka dengan banyak kemungkinan cara memperoleh jawaban, dan banyak kemungkinan jawaban. Jenis-jenis masalah non rutin ini memerlukan keterampilan berpikir seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif dan berpikir divergen (Gorman, 1974: 303).

Berdasarkan pendapat tersebut, diperoleh gambaran bahwa apabila seseorang berada pada suatu kondisi yang tidak ideal dan ingin menuju kondisi ideal itu, tetapi untuk mencapai tujuan tersebut tidak mudah dan memerlukan pemikiran untuk sampai pada solusinya, maka pada saat itulah seseorang tersebut sedang menghadapi masalah. Seseorang dapat menemukan strategi penyelesaian masalah secara teratur dalam rangkaian langkah-langkah yang mengarah pada tujuan dan keinginan yang hendak dicapai atau diharapkan.

Syarat suatu masalah bagi siswa (Herman Hudojo, 2005: 124), adalah:
1.    Pertanyaan yang dihadapkan kepada seorang siswa haruslah dapat dimengerti oleh siswa tersebut, namun pertanyaan itu harus merupakan tantangan baginya untuk menjawabnya.
2.    Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah diketahui siswa.

Sejalan dengan itu, Erman Suherman Ar, Turmudi, Didi Suryadi, dkk (2003: 92–93) menyatakan bahwa suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya, akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Jika suatu pertanyaan dapat diketahui secara langsung penyelesaiannya dengan benar, maka pertanyaan seperti itu tidak dapat dikatakan sebagai masalah.

Polya (1981: 119) menggolongkan masalah matematik menjadi dua golongan, yaitu:

… problems “to find” and problems “to prove”. The aim of a problem to find is to find (construct, produce, obtain, identify, …) a certain object, the unknown of the problem. The aim of a problem to prove is to decide whether a certain assertion is true or false, to prove it or disprove it.

Problem “to find” bertujuan untuk menemukan (membangun, menghasilkan, memperoleh, mengidentifikasi) suatu objek tertentu yang tidak dikenal dari masalah, sedangkan problem “to prove” bertujuan untuk memutuskan kebenaran suatu pernyataan, membuktikannya atau membuktikan kebalikannya (kontradiksi).

Masalah juga dapat dibedakan berdasarkan strukturnya, yaitu masalah yang terdefinisi dengan baik (well-defined problem) dan masalah yang tidak terdefinisi dengan baik (ill-defined problem). Masalah yang terdefinisi dengan baik adalah situasi masalah yang pernyataan asli atau asal, tujuan dan aturan-aturannya terspesifikasi. Sebaliknya, masalah yang tidak terdefinisi dengan baik adalah masalah yang pernyataan asal, tujuan dan aturan-aturannya tidak jelas sehingga tidak memiliki cara sistematik untuk menemukan solusi. Selain itu, dikenal pula adanya masalah dengan penyelesaian tunggal (dalam penyelesaiannya memerlukan pola berpikir konvergen) dan masalah dengan penyelesaian tidak tunggal (dalam penyelesaiannya memerlukan pola berpikir divergen).

Dapat disimpulkan bahwa masalah adalah suatu situasi yang tidak terstruktur dengan baik, yang dapat diselesaikan tanpa menggunakan prosedur atau algoritma rutin, sesuai dengan tahap perkembangan mental siswa yang memiliki pengetahuan prasyarat mengenai situasi tersebut.

ads

Ditulis Oleh : ericson damanik Hari: 07.37 Kategori:

 

Blogger news

Pengikut