Pengertian Pembelajaran Terpadu

Pengertian Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3), atau pengajaran lintas bidang studi (Maryanto, 1994: 3).

Pembelajaran terpadu merupakan paket pengajaran yang menghubungkan berbagai konsep dari beberapa disiplin ilmu. Metode pembelajaran terpadu berorientasi pada keaktifan siswa, pengetahuan awal siswa sangat membantu dalam memahami konsep dan keberhasilan belajar.

Menurut Fogarty (1991) pembelajaran terpadu dibedakan atas tiga model yaitu
  1. model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi tipe Connected dan Nested,
  2. model antar bidang studi yang meliputi tipe Sequenced, Shared, Webbed, Threaded, dan Integrated, 
  3. model dalam lintas bidang studi yang meliputi tipe Immersed dan Networked.
Metode pembelajaran terpadu memiliki ciri seperti
1)      berpusat pada anak,
2)      memberikan pengalaman langsung pada anak,
3)      pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas,
4)      menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran,
5)      hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai minat dan kebutuhan anak.

Pembelajaran ini dapat dilaksanakan dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Perlu suatu penelitian yang dilakukan dalam bentuk kaji tindakan kelas (action research) bertujuan untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar di kelas dan mengembangkan pembelajaran terpadu model gabungan dalam pembelajaran IPS di SD, SMP  dan aktivitas belajar siswa.

Secara umum pembelajaran terpadu pada prinsipnya terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuat siswa secara optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat pengalaman langsung dalam proses belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang hal-hal yang dipelajarinya.

Pembelajaran terpadu juga suatu model pembelajaran yang dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna pada pembelajaran terpadu artinya, siswa akan memahami konsep-konep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Tim Pengembang D-2 PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar (1997 : 17) yang mengatakan bahwa “ pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa”.

Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.


Berdasarkan uraian di atas maka pembelajaran terpadu sebagai berikut:
Pembelajaran dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain baik berasal dari bidang studi yang bersangkutan ataupun lainnya.
1)      Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata disekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak.
2)      Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
3)      Menggabungkan sebuah konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

Pendidikan IPS penyerderhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial filsafat,ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial terkait yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan fisikologis untuk tujuan pendidikan dasar.

Fungsi Pendidikan IPS adalah :
  1. mengembangkan pengetahuan
  2. nilai sikap dan keterampilan sosial serta kewarganegaraan peserta didik agar dapat direflesikan dalam kehidupan masyarakat.
  3. bangsa dan negara maupun pergaulan dunia
Tujuan pendidikan IPS adalah:
  1. mengembangkan pengetahuan dasar sosiologian, kegeografian, keekonomian, kesejahteraan, dan kewarganegaraan.
  2. Nebgenbangkan kemampuan berpikir, inkuiri, peemecahan masalah dan keterampilan sosial
  3. Memnbangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan
Aspek-Aspek dalam pendidikan IPS :
a.       Batasan
b.      Jati diri
c.       Batang tubuh pendidikan IPS masih sangat terbatas

Konsep Pembelajaran Terpadu
Kecenderungan konsep pembelajaran terpadu diyakini sebagai suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak. Pendekatan ini berangkat dari suatu paham bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu konsep dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.

Adapun untuk dapat melaksanakan pembelajaran terpadu, beberapa hal yang diperlukan antara lain adalah:
  1. Kejelian guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai arahan pengait konseptual intra ataupun antar bidang studi.
  2. Penguasaan material dan metodologi terhadap bidang-bidang studi yang bisa dikaitkan.
  3. Wawasan kependidikan yang mampu membuat guru selalu waspada untuk memanpaatkan setiap keputusan dan tindakan untuk memberikan uraian nyata bagi pencapaian tujuan utuh pendidikan.
Untuk mempermudah ilustrasi proses pembelajaran terpadu, dapat dilihat melalui alur proses seperti dibawah ini:

Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, seperti menurut Hilda Karli (2003: 53) mengungkapkan bahwa:
Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, diantaranya:
  1. Berpusat pada anak (studend centerd).
  2. Memberi pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
  5. Bersipat luwes.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
  8. Bermakna, artinya pengkajian suatu penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan skemata yang dimiliki siswa.
  9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
  10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.

Wujud lain dari implementasi terpadu yang bertolak pada tema, yakni kegiatan pembelajaran yang dikenal dengan berbagai nama seperti pembelajaran proyek, pembelakaran unit, pembelajaran tematik dan sebagainya.


Adapun kelebihan-kelebihan pembelajaran terpadu diantaranya:
  1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
  2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak pada minat dan kebutuhan anak.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran Terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak.
  5. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingklungan anak.
  6. Menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain.
Selain kelebihan pembelajaran terpadu juga memiliki keterbatasan terutama pada pelaksanaannya, terutama pada aspek evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga terhadap proses.

Langkah-langkah pembelajaran terpadu
  • Memberi tanda PB/SPB yang dipadukan dan menghubungkannya
  • Menentukan jenis mata pelajaran yang akan dipadukan
  • Menyusun daftar PB/SPB mata pelajaran yang dipaduklan
  • Membaca dan mengkaji uraian PB/SPB
  • Menentukan tema pemersatun Penguraian lanjut PB/SPB yang dipadukan

Membuat satuan pembelajaran/rencana masing-masing mata pelajaran

Pembelajaran Mata Pelajaran IPS di Sekolah/Madrasah Saat Ini
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB, bahkan sampai pada jenjang SMK. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Menurut lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006, tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah, butir Struktur Kurikulum Pendidikan  Umum pada  struktur kurikulum SD/MI point b, dinyatakan bahwa “substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SD/MI merupakan ‘IPA terpadu’ dan ‘IPS terpadu’ (2006:7).  Demikian halnya untuk substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs juga merupakan ‘IPA terpadu’ dan ‘IPS terpadu’ (2006:9). Bahkan untuk jenjang pendidikan menengah, khususnya pada SMK/MAK, substansi mata pelajaran IPS juga disajikan sebagai  ‘IPS terpadu’ (2006:17).

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. Disiplin ilmu sosial yang termasuk dalam mata pelajaran IPS adalah (1) ilmu Geografi (aspek yang dipelajari mencakup manusia, tempat, dan lingkunga), (2) ilmu Sejarah (aspek yang dipelajari mencakup waktu, keberlanjutan, dan perubahan), (3) ilmu Sosiologi (aspek yang dipelajari mencakup sistem sosial dan budaya), dan (4) ilmu Ekonomi (aspek yang dipelajari mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan).

Dengan demikian ada perbedaan mendasar pada tujuan mempelajari disiplin  ilmu sosial dengan mempelajari IPS. Tujuan mempelajari disiplin ilmu sosial secara tersendiri adalah untuk menjadi ilmuan disiplin ilmu sosial yang dipilih (misalnya Ekonom, Sosiolog, Sejarahwan, dan sebagainya); sedangkan mempelajari mata pelajaran IPS sebagaimana dikemukakan oleh Banks (dalam Asmi, 2002:243)  bertujuan untuk “membantu siswa mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan untuk menghadapi isu dan maslah sosial secara reflektif”.

Adapun tujuan mempelajari mata pelajaran IPS sebagaimana dinyatakan dalam kurikulum IPS 2006 pada satuan pendidikan SD/MI dan satuan pendidikan SMP/MTs adalah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut; (1) mengenal  konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan  masyarakat dan lingkungannya, (2) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,  inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, (3) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan (4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. Sedangkan tujuan mempelajari mata pelajaran IPS.

Menurut Asmi (2002: 243) dalam kenyataannya, di sekolah Indonesia sekarang keadaan ideal ini tidak tercapai. Walaupun dalam kurikulum sering disebut proses pembelajaran inkuiri, sebagaimana juga terlihat dalam rencana kurikulum baru, namun hal ini tidak terjadi dan terlaksana dengan baik di kelas. Pembelajaran IPS sangat menekankan jumlah pengetahuan yang harus dimiliki atau akumulasi pengetahuan yang berbentuk fakta dan teori (accumulated knowledge), lebih menekankan pada hafalan (rote learning) dari pada berpikir, sehingga dengan demikian siswa tidak terlatih melihat dan menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Penekanan yang lebih mengutamakan ”learning accumulated knowledge” akan melemahkan prinsip pembelajaran ”learning to learn”, suatu kecakapan yang diperlukan untuk hidup. Akibatnya mata pelajaran IPS menjadi pelajaran yang tidak menarik siswa. Keadaan ini terutama dipicu pula oleh materi kurikulum yang padat dengan informasi dan ujian yang menekankan pada hafalan (recalling of knowledge/rote learning), ditambah dengan kurangnya media belajar yang tersedia.

Meskipun kurikulum sudah mengalami perubahan, yakni dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004 dan kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP) yang keduanya tetap dapat disebut sebagai kurikulum berbasis kompetensi, namun pelaksanaan pembelajaran IPS tidak mengalami perubahan. Hal yang tidak berubah  atau seringkali tetap sama dilakukan antara lain seperti: cara mengajar guru, materi pelajaran setiap disiplin ilmu yang tergabung dalam mata pelajaran  IPS (terdiri atas kompetensi dasar Sosiologi, Sejarah, Geografi dan Ekonomi) tetap disajikan secara tersendiri tanpa dikaitkan dengan disiplin ilmu yang lain; jadi pola pengajaran yang diterapkan masih terpisah seperti pola kurikulum 1994 khususnya pada satuan pendidikan di SMP/MTs. Hal demikian terjadi karena di samping latar belakang pendidikan guru memang sudah terspesialisasi dalam pendidikan disiplin ilmu tertentu seperti pendidikan Ekonomi, pendidikan Sejarah, pendidikan Geografi, dan pendidikan Sosiologi sehingga merasa sudah menjadi tanggungjawabnya mengajar disiplin ilmu tersebut, juga rendahnya keterpahaman guru tentang konsep dan praktek pengajaran terpadu berdasarkan tema sebagaimana tuntutan kurikulum 2006.

Perbedaan penyajian IPS terpadu pada satuan pendidikan  MI/SD dengan satuan pendidikan MTs/SMP adalah jika pada satuan pendidikan MI/SD sebagaimana tertera dalam tabel 1. yakni untuk satuan pendidikan MI/SD kelas 1, 2 dan 3 atau yang disebut dengan kelas rendah pembelajaran dilakukan secara tematik, artinya bahwa pembelajaran mata pelajaran IPS harus disajikan secara tematik dengan mata pelajaran lain, seperti Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan sebagainya. Biasanya satu tema mencakup dari dua atau lebih KD-KD yang ada pada mata pelajaran yang ada pada struktur kurikulum di MI/SD. Pembelajaran di kelas rendah ini menggunakan pendekatan pembelajaran guru kelas. Sedangkan untuk kelas 4, 5, dan 6  atau yang disebut dengan kelas tinggi pada satuan pendidikan MI/SD pendekatan guru mata pelajaran yang diterapkan, sehingga model pembelajaran mata pelajarannya sama dengan yang berlaku pada satuan pendidikan MTs/SMP. Dengan demikian pengembangan kurikulum mata pelajaran IPS juga sama.

Oleh karena pembelajaran IPS dalam kurikulum 2006 merupakan IPS Terpadu yang merupakan gabungan antara berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, yang terdiri atas beberapa bagian disiplin ilmu terseleksi seperti Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan Sejarah, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi terhadap guru yang mengajar di kelas. Seyogianya (idealnya) guru dalam pembelajaran IPS dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran, yakni Guru Mata Pelajaran IPS.  Hal demikian juga ditunjukan oleh temuan  penelitian Wahidmurni (2006: 60) yang menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari kurikulum 1994 ke kurikulum 2004 dan bahkan telah diterbitkan kurikulum 2006 yang pada saat ini sedang disosialisasikan pada lembaga-lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Lebih khusus kurikulum untuk mata pelajaran IPS di SD/MI, SMP/MTs, dan di SMK/MAK, yang dahulu mata pelajaran yang tergabung dalam IPS disajikan secara mandiri dan sekarang disajikan secara terintegrasi. Implikasinya sebagai lembaga atau program studi yang menghasilkan calon guru, direkomendasikan kepada fakultas Tarbiyah khususnya program studi Pendidikan IPS untuk segera menyesuaikan kurikulumnya guna memenuhi kebutuhan calon guru IPS di masa yang akan datang.

Model Pembelajaran Mata Pelajaran IPS yang Disarankan
Terkait dengan tugas pengajaran mata pelajaran IPS, guru dituntut untuk dapat menyajikan pengajarannya dengan menggunakan pendekatan tematik, sebab sebagaimana dinyatakan dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi bahwa substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SD/MI merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”; demikian pula substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs juga merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Keterpaduan ini menuntut penyajian materi yang saling terkait antara disiplin ilmu-disiplin ilmu yang tergabung dalam mata pelajaran IPS, yakni Sosiologi, Sejarah, Geografi dan Ekonomi. Setiap standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ada dalam kurikulum seharusnya dipetakan  SK dan KD manakah yang dapat dipadukan, dan SK dan KD mana yang tidak dapat dipadukan, sehingga harus disajikan secara mandiri. Keterpaduan SK dan KD ini dapat diwujudkan dalam suatu tema-tema tertentu. Perwujudan tema-tema inilah yang seringkali kita sebut sebagai konsep pembelajaran tematik.

Tahap Perencanaan Pembelajaran
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi siswa (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini: (1) pemetaan SK dan KD untuk menentukan topik/tema, dan  (2) pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Pada langkah pemetaan SK dan KD dilakukan oleh tim guru IPS secara bersama-sama. Seyogyanya seluruh anggota tim harus hadir dalam acara ini, sebab pada acara pemetaan SK dan KD harus ada kesepakatan seluruh anggota tim tentang tema-tema sentral yang menjadi acuan dalam pembuatan silabus dan RPP. Pada tahap ini biasanya terjadi perdebatan yang sengit antar guru untuk menyepakati tema/topik yang akan menjadi acuan bersama.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemetaan KD-KD yang ada dalam mata pelajaran IPS adalah: (1) upayakan pemetaan dilakukan pada setiap kurikulum mata pelajaran IPS pada kelas tertentu saja yang terdiri atas dua semester, jangan mengabungkan dengan tingkatan kelas yang berbeda, (2) sedapat mungkin setiap KD dari disiplin ilmu sosial dapat dimasukan ke dalam tema yang disepakati, jika tidak dapat dimasukkan juga tidak boleh dipaksakan, (3) satu KD dari disiplin ilmu sosial yang ada dapat dimasukkan pada dua atau lebih tema yang ada, (4) jika ada KD disiplin ilmu sosial tertentu tidak dapat dimasukkan ke dalam tema yang ada, maka KD tersebut disajikan secara terpisah, dan (4) dalam satu tema dapat terdiri atas dua atau lebih KD dari suatu disiplin ilmu sosial tertentu.

Pada langkah pengembangan silabus dan penyusunan RPP dengan acuan sebagai berikut, untuk penyusunan silabus dibuat secara bersama-sama oleh anggota tim sedangkan untuk penyusunan RPP disusun oleh masing-masing guru pengampu mata pelajaran IPS sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam penyusunan RPP ini adalah sebagai berikut: (1) Silabus tematik yang telah disepakati menjadi acuan utama, dan (2) format RPP hendaknya diseragamkan antar guru.

Adapun RPP  dibuat secara individual dengan tetap terikat pada tema yang telah disepakati bersama (hal ini sebagai konsekuensi bahwa guru masih mengajar sesuai dengan bidang keahlian dalam disiplin ilmu sosial yang berdiri sendiri). Penjabaran KD menjadi indikator hasil belajar setidaknya sama tingkatannya  dengan indikator-indikator pada model pembelajaran sebelumnya, atau bahkan lebih tinggi tingkatannya. Hal demikian dilakukan sebagai persiapan mata pelajaran IPS akan dimasukan sebagai mata pelajaran yang diujikan secara nasional.

Komponen yang harus dijabarkan lebih rinci dalam RPP adalah komponen kegiatan pembelajaran dan penilaian. Komponen kegiatan pembelajaran harus menggambarkan secara rinci interaksi belajar antara siswa-guru dan sumber belajar. Sedangkan dalam komponen penilaian harus disertakan bentuk konkrit dari instrumen yang digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi yang telah ditetapkan berikut rubrik penilaiannya.

Tahap Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam tahap pelaksanaan pembelajaran dapat menerapkan model pembelajaran dengan menggunakan pola (1) model pembelajaran mandiri dan (2) model pembelajaran berkolaborasi. Model pembelajaran mandiri berarti setiap guru melaksanakan tugas pembelajaran secara individual dengan tetap beracuan pada tema (akan dapat berhasil dengan baik jika latar belakang pendidikan guru adalah dari program studi Pendidikan IPS, dan atau guru yang berlatar belakang pendidikan program studi pendidikan dalam disiplin ilmu sosial tertentu ditambah dengan bekal pelatihan atau program pendidikan IPS sebagai tambahan). Sedangkan model pembelajaran berkolaborasi berarti pelaksanaan pembelajaran diampu oleh beberapa orang guru, dimana satu orang guru bertindak sebagai guru inti dan guru lainnya membantu jalannya pembelajaran (ini dapat dilakukan oleh karena kondisi yang ada masih banyak guru yang berlatar belakang pendidikan program studi pendidikan ilmu sosial tertentu).

Pada saat ini, model yang disarankan adalah model pembelajaran berkolaborasi, sebab di samping masih banyaknya guru yang berlatar belakang pendidikan program studi pendidikan ilmu sosial tertentu juga karena dengan adanya kolaborasi akan memudahkan guru untuk memperbaiki program pembelajaran secara berkelanjutan; lebih-lebih dalam pelaksanaan pembelajaran diikuti dengan adanya penelitian tindakan kelas (PTK). Pembagian tugas di antara anggota tim setidaknya harus jelas dan tegas, sehingga suasana pembelajaran dapat diprotret/diamati secara lebih tajam sebagai bahan refleksi atas program pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Dengan memperhatikan kerangka dasar dan struktur kurikulum sebagaimana tertuang dalam Permendiknas  nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, maka dalam pelaksanaan program pembelajaran mata pelajaran IPS  pada setiap satuan pendidikan (MI/SD, MTs/SMP dan SMK) menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Pelaksanaan program pembelajaran mata pelajaran IPS harus didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan selama mengikuti program pembelajaran.
  2. Pembelajaran mata pelajaran IPS harus dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
  3. Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran IPS harus memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
  4. Pembelajaran mata pelajaran IPS harus dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).
  5. Pembelajaran mata pelajaran IPS harus dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
  6. Pembelajaran mata pelajaran IPS harus dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
Tahap Penilaian Pembelajaran
Untuk memastikan bahwa pelaksanaan pembelajaran telah mencapai tujuan atau kompetensi yang ditetapkan dalam RPP diperlukan kegiatan penilaian pembelajaran. Penilaian pembelajaran dikatakan baik dan benar jika instrumen penilaian yang digunakan benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.

Sistem penilaian yang  dilakukan oleh sekolah/madrasah harus mengikuti pedoman atau prinsip penilaian yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Permendiknas Nomor  20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada point B butir ke 8 yang menyatakan bahwa “prinsip penilaian beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan”.

Oleh karena kurikulum KTSP berdasarkan kompetensi dan untuk mengukur dan menilai keberhasilan belajar menggunakan Penilaian Acuan Kriteria (PAK), hal ini sebagaimana dapat dilihat dari adanya ujian nasional yang penilaiannya juga menggunakan PAK; maka sistem penilaiannya juga menggunakan PAK yang operasionalisasinya di sekolah/madrasah pada saat ini dikenal dengan istilah Kriteria Ketuntasan  Minimal (KKM). Besarnya skor KKM pada dasarnya diserahkan kepada sekolah/madrasah itu sendiri, karena sekolah/madrasah yang lebih tahu akan kondisi dirinya, misalnya bagaimana karakteristik sekolah/madrasah, bagaimana kondisi sumberdaya yang dimiliki, bagaimana karakteristik peserta didiknya dan sebagainya.  

Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, sub bab Pengertian point 10 bahwa “ kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan nilai ambang batas kompetensi”. Lebih lanjut tentang penentuan besaran KKM oleh satuan pendidikan harus memperhatikan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
Untuk dapat menerapkan penilaian yang baik dibutuhkan penguasaan yang optimal tentang: (1)  ranah penilaian hasil belajar, (2) penyusunan instrumen penilaian baik tes maupun non tes, (3) penentuan besaran kriteria ketuntasan minimal (KKM) hasil belajar siswa.

Dengan demikian pada tahap penilaian harus dilaksanakan secara matang oleh tim guru IPS. Format penilaian berikut besaran sekor KKM harus ditetapkan secara bersama oleh anggota tim guru mata pelajaran IPS pada awal tahun atau awal semester bersamaan dengan acara pemetaan SK dan KD dan penyusunan silabus. Hal demikian dilakukan untuk menghindari adanya perselisihan antar anggota tim ketika akan melaksanakan penilaian pembelajaran.

ads

Ditulis Oleh : ericson damanik Hari: 04.30 Kategori:

 

Blogger news

Pengikut