Pengertian Konselor

Pengertian Konselor
Konselor adalah seseorang yang karena kewenangan dan keahliannya memberi bantuan kepada konseli. Dalam konseling individual, konselor menjadi aktor yang secara aktif mengembangkan proses konseling untuk mencapai tujuan konseling sesuai dengan prinsip-prinsip dasar konseling. Dalam proses konseling, selain menggunakan media verbal, konselor juga dapat menggunakan media tulisan, gambar, media elektronik, dan media pengembangan tingkah laku lainnya. Semua itu diupayakan konselor dengan cara-cara yang cermat dan tepat, demi terentaskannya masalah yang dialami oleh konseli.

Untuk mengelola konseling secara efetif, seorang konselor dituntut memiki seperangkat sifat kepribadian dan ketrampilan tertentu. Meskipun dalam tataran konsep berkembangnya pandangan yang bervariasi tentang konselor yang efektif, namun mereka mengakui bahwa karakteristik pribadi dan perilaku konselor kontributif bagi pembinaan relasi yang bermakna yang akan mendorong konseli untuk berkembang. Beberapa kompetensi pribadi yang signifikan untuk dimiliki konselor antara lain, pengetahuan yang baik tentang diri sendiri (self-knowledge), berkompeten, kesehatan psikologis yang baik, dapat dipercaya (trustworthness), kejujuran, kekuatan atau daya (strength), kehangatan (warmth) pendengar yang aktif (active responsiveness), kesabaran, kepekaan (sensitivity), kebebasan, dan kesadaran holistik. Kompetensi tersebut akan mendorong konselor untuk menjadi pribadi terapeutik, yang antara lain dapat dideskripsikan sebagai berikut :
a.       Memiliki gagasan yang jelas mengenai keyakinan tentang hidup, manusia, dan masalah-masalah, kesadaran dan pandangan yang tepat terhadap peranannya, dan tanpa syarat memandang dan merespons konseli sebagai pribadi.
b.      Mampu mereduksi kecemasan, tidak tertekan, tidak menunjukan sikap bermusuhan, tidak membiarkan diri menurun kapasitasnya
c.       Memiliki kemampuan untuk hadir bagi orang lain, yang berupa kerelaan untuk mengambil bagian dengan orang lain dalam suka duka mereka, hal mana timbul dari keterbukaan konselor terhadap masalah dan perasaan sendiri, sehingga dia sanggup menghayati dan menunjukan empaty dengan konselinya.
d.      Mengembangkan diri menjadi konselor yang otonom, melalui pengembangan gaya konseling yang sesuai dengan kepribadiannya sambil terbuka untuk belajar dari orang lain, dan mempelajari berbagai konsep dan teknik konseling, serta menerapkannya sesuai dengan konteks dan pribadinya.
e.       Respek dan apresiatif terhadap diri sendiri, artinya konselor harus memilki suatu rasa harga diri yang kuat yang menyanggupkannya berhubungan dengan orang lain atas dasar hal-hal yang positif dari konseli.
f.       Berorientasi untuk tumbuh dan berkembang, dalam pengertian berusaha untuk terbuka guna memperluas cakrawala wawasannya. Konselor tidak hanya puas dengan apa yang ada dan berupaya mempertanyakan mutu eksistensinya, nilai-nilai, dan motivasinya, serta terus menerus berusaha memahami dirinya sendiri karena konselor hendak mendorong pemahaman diri itu dalam diri konseli.

Pengertian Konseli
Konseli adalah seorang individu yang sedang mengalami masalah, atau setidaknya sedang mengalami sesuatu yang ingin disampaikan kepada orang lain. Konseli menanggung semacam beban, uneg-uneg, atau mengalami suatu kekurangan yang ia ingin isi, atau mengalami suatu ia ingin dan/atau perlu dikembangkan pada dirinya. Melalui konseling, konseli menginginkan agar ia mendapatkan suasana berpikir yang jernih dan/atau perasaan yang lebih nyaman, memperoleh nilai tambah, hidup yang lebih berarti, dan hal-hal positif  lainnya dalam menjalani hidup sehari-hari.

Konseli datang dan bertemu konselor dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang datang sendiri dengan kemauan kuat untuk menemui konselor (self-referal), ada yang datang dengan perantara orang lain, bahkan ada yang datang (mungkin terpaksa) karena didorong atau diperintah oleh pihak lain. Kedatangan konseli bertemu konselor disertai dengan kondisi tertentu yang ada pada konseli. Apapun latar belakang kedatangan konseli dan bagaimanapun kondisi konseli, harus diperhatikan, diterima, dan dilayani sepenuhnya oleh konselor.

Konteks Hubungan Konselor-Konseli
Dalam konseling, hubungan konselor dengan dengan konseli berada dalam konteks hubungan membantu (helping relationship), yaitu hubungan untuk meningkatkan pertumbuhan, kematangan, fungsi, dan cara menghadapi kehidupan dengan memanfaatkan sumber-sumber internal pada pihak konseli.

Tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling tersebut akan dicapai secara efektif apabila kondisi konseling memungkinkan konseli berkembang dan menggali potensi-potensi yang ada pada dirinya. Kondisi konseling yang fasilitatif meliputi kongruensi (congruence), penghargaan positif tanpa syarat (positive regard), dan memahami secara empati (emphatic understanding), serta mempunyai kesadaran akan budaya (cultural awareness)

Kongruensi
Kongruensi dalam hubungan konseling dapat dimaknakan dengan ”menunjukan diri sendiri” apa adanya, berpenampilan terus terang dan lebih penting adalah kesesuaian antara hal-hal yang dikomunikasikan secara verbal dengan non verbal. Kongruensi dalam beberapa referensi yang lain memiliki kesamaan istilah dengan otentik (authenticity), kesejatian (genuineness). Jika konseli tahu bahwa konselor tidak kongruensi maka bisa berakibat mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan konseli pada konselor. Konselor dalam hubungan konseling diharapkan dapat menimbulkan kongruensi pada diri konseli, artinya konseli mempunyai sikap apa adanya, terus terang, tidak bersikap defensif karena jika konseli memiliki sikap-sikap demikian akan menghambat hubungan konseling.

Penghargaan Positif Tanpa Syarat
Konseling akan lebih efektif jika kondisi penghargaan yang positif ini diciptakan konselor dan dilakukan tanpa syarat. Dengan kata lain konselor menerima setiap individu (konseli) tanpa menilai aspek-aspek pribadinya yang ”lemah” ataupun ”kuat” Penghargaan kondisi yang harmonis  positif tanpa syarat memiliki kesamaan makna dengan hangat, kepedulian. Dengan demikian dapat tercipta kondisi yang harmonis antara konselor dan konseli. Dalam hal ini konseli dapat belajar bahwa dirinya dengan kenyataan yang ada dapat diterima oleh orang lain sekaligus konseli dapat menerima dirinya apa adanya, baik kekurangan maupun kelebihan yang ia miliki.

Pemahaman Secara Empati
Memahami secara empati merupakan suatu kemampuan untuk memahami cara pandang (pikiran, ide) dan perasaan orang lain. Memahami secara empati ini bermakna bahwa konselor memahami cara pandang dan perasaan konseli berdasakan kerangka pemikiran yang dimiliki oleh konseli sendiri (internal frame of reference). Konselor hendaknya berfikir dengan bersama-sama konseli daripada berfikir tentang atau mengenai konseli. Dengan kondisi ini maka konselor yang efektif mestilah menghayati perasaan konseli sebagaimana konseli mempersepsi perasan-perasannya maupun cara pandangnya terhadap sesuatu. Dengan adanya pemahaman secara empati maka konseli akan merasakan bahwa ada orang lain yang mau dan bersedia memahami dirinya yang sebelumnya belum diperolehnya.

Kesadaran Budaya
Kesadaran akan budaya mengacu pada kemampuan konselor untuk terbuka dan memotivasi untuk belajar menerima dan memahami budaya yang berbeda dengan budaya yang ia miliki. Dengan menggunakan kesadaran budaya konseli tidak memaksakan kehendaknya (nilai-nilai) yang dianutnya sekaligus didalamnya terkandung budaya yang konselor miliki tetapi konselor memberikan dorongan konseli untuk mengubah apa yang seharusnya ia inginkan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ia miiki.

Karakteristik dinamika dan keunikan hubungan konselor konseli sebagai hubungan yang bersifat membantu adalah sebagai berikut.

Afeksi
Hubungan konselor dengan konseli sejatinya lebih sebagai hubungan afeksi dari ada sebagai hubungan afeksi dari pada sebagai hubungan kognitif. Hubungan afeksi akan tercermin sepanjang proses konseling termasuk dalam melakukan eksplorasi terhadap persepsi dan perasaan-perasaan subyektif konseli. Hubungan yang penuh afeksi ini dapat mengurangi rasa kecemasan dan ketakutan pada konseli.

Intensitas
Hubungan konselor dengan konseli dilakukan dengan penuh intensitas sehingga memfasilitasi konseli untuk terbuka terhadap persepsinya. Tanpa adanya hubungan konseling tidak akan mencapai pada tingkatan yang diharapkan. Dalam konteks ini, konselor mengupayakan agar hubungannya konseli dapat berlangsung secara mendalam sejalan dengan perjalanan hubungan konseling.

Pertumbuhan dan perubahan
Hubungan konseling bersifat dinamis, terus berkembang menuju pertumbuhan dan perkembangan yang lebih optimal. Kedinamisan hubungan ini akan tercermin dari waktu ke waktu terjadi peningkatan hubungan konselor dengan konseli, peningkatan pengalaman dan tanggung jawab konseli.

Privasi
Pada prinsipnya dalam hubungan konseling perlu keterbukaan konseli tentang masalahnya. Keterbukaan konseli tentang masalahnya. Keterbukaan konseli tersebut bersifat konfidensial, konselor harus menjaga kerahasiaan seluruh informasi tentang konseli dan tidak dibenarkan mengemukakan secara transparan kepada siapapun tanpa seijin konseli. Perlindungan jaminan ini adalah unik dan akan meningkatkan kemauan konseli membuka diri.

Dorongan
Dalam hubungan konseling, konselor memberikan dorongan kepada konseli untuk meningkatkan kemampuan dirinya dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Memberikan dorongan kepada konseli untuk meningkatkan efektifitas perilakunya dan memotivasi untuk bertanggung jawab terhadap keputusannya.

Kejujuran
Hubungan konselor dengan konseli didasari atas kejujuran dan keterbukaan. Dalam hubungan konseling tidak ada sandiwara dengan jalan menutupi kelemahan, atau mengatakan yang bukan sejatinya. Konselor dan konseli harus membangun hubungan secara jujur dan terbuka.

ads

Ditulis Oleh : ericson damanik Hari: 03.06 Kategori:

 

Blogger news

Pengikut