Pengertian Faktor-Faktor Psikologis (Household’s invetsment)

Kinerson dan Bailey (2005) mengemukakan bahwa   beratus-ratus tahun yang lalu manusia telah dihadapkan pada suatu persoalan pengambilan keputusan dalam investasi.  Dalam pembuatan keputusan investasi, manusia  dihadapkan pada risiko (Risk). Pada pertengahan abad tujuh belasan perdagangan dan bisnis mengalami pertumbuhan yang cukup berarti. Kondisi tersebut memunculkan  berbagai persoalan, salah satunya adalah persoalan investasi, kemungkinan mendapatkan atau tidak mendapatkan hasil atas investasi tersebut serta  perlindungan (penjaminan) atas kerugian investasi. Munculnya kemungkinan   kerugian suatu investasi mendorong tumbuhnya industri atau perusahaan asuransi (Edwared Lloyd ,2005).  Dengan adanya asuransi penyebaran asuransi dalam suatu investasi akan terjadi sebagai akibat dari manajemen risk. Sejak saat itulah mulai bermunculan studi  mengenai risiko dan pengambilan keputusan  dibawah kondisi  yang berisiko (under risk) dan ketidak pastian (uncertainty).

Kinnerson dan Beliy (2005) dalam studinya mengemukakan bahwa dalam penelitian atau studi lanjutan mengenai pengambilan investasi (Investment decision making), khususnya pada analisis porfolio, peneliti selanjutnya perlu memperhatikan dampak regret pada perilaku pemilihan investasi yang rasional. Mereka menyarankan, peneliti investment behavior  perlu mengidentifikasi dampak detrimental  (detrimental effect) suatu keputusan yang disebabkan oleh pengalaman negatif masa lalu oleh pengambil  keputusan.  Secara lebih khusus dikemukakan  peneliti perlu melihat  pengaruh risk tolerance dalam melihat perilaku pengambilan keputusan investasi (effect risk toleranc on investment choice behavior). Selain itu, Bailey, Nofsinger & Oneill (2003) mengetengahkan bahwa keputusan investasi dipengaruhi oleh lebih dari satu faktor, yakni   karakteristik pengambil keputusan, pengaruh sosial (social influence) dan faktor psikologis (psychological influence) 

Salah satu fenomena yang cukup menarik  dalam hal  investasi khususnya pada sektor rumah tangga adalah di negara Jepang. Di Jepang berdasarkan laporan System of National Accounts,  ditemukan bahwa tingkat tabungan rumah tangga secara konsisten mengalami kenaikan sejak pertengahan  1970 hingga 1980 dan  sedikit mengalami perubahan setelah periode 1990-an. Beberapa temuan terkait dengan terjadinya perubahan yang sangat signifikan pada investasi sektor rumah tangga tersebut  meliputi : 
1). Proporsi safe asset seperti deposito dan tabungan lebih tinggi dibandingkan dengan di negara lain. 
2).  Pangsa investasi aset finansial  relatif  tinggi 
3). Asset Finansial yang dimiliki rumah tangga konsentrasinya sangat  besar dalam bentuk saving.  

Beberapa faktor yang turut berkontribusi terhadap  pola berinvestasi di Jepang antara lain karena :
1) Masyarakat di Jepang  memiliki kecenderungan  berinvestasi jangka panjang di sektor; seperti real estat, rumah,  namun tetap menjaga likuiditas dengan tetap memegang deposito dan tabungan. 
2).  Kepemilikan Kapasitas investasi. Kelompok penduduk atau masyarakat muda cenderung memilih instrumen investasi yang berisiko tinggi.  
3) Sistem upah/gaji berbasis senioritas, sistem pensiun yang berlaku bertendensi untuk menghilangkan disparitas kesenjangan  pendapatan individual dalam siklus hidup masyarakat.  Hal ini berdampak pada pola tabungan atau investasi masyarakat. 
4)  Rumah tangga di Jepang kurang atau bahkan tidak memiliki  pengetahuan  berkaitan dengan  instrumen finansial yang bersiko dan kurang mamahami  efektifitas  investasi jangka panjang yang berisiko. 
5) Deposito dan tabungan menjadi  aset instrumen investasi yang  dianggap paling terjamin.  
6) Asset bersiko, seperti saham  adalah instrumen investasi yang dianggap kurang menarik. Selain itu, dalam hal perilaku investasi rumah tangga ditunjukkan bahwa selama periode high economic growth sejak berakhirnya. 

Perang Dunia II, tingkat tabungan sektor rumah tangga mengalami peningkatan/perubahan yang sangat berarti. Perubahan tingkat tabungan rumah tangga tersebut  seiring dengan perubahan yang terjadi pada faktor demografi, yang  terkait dengan jumlah anak yang terbatas(sedikit), perubahan pada sistem keuangan, sistem keamanan sosial dan terjadinya inovasi teknologi informasi serta perubahan pada lingkungan arus dana di Jepang. Perubahan-perubahan tersebut berdampak pada perubahan struktur arus dana di sektor rumah tangga dan memiliki konsekuensi  terhadap pergerakan tingkat tabungan rumah tangga  serta perubahan perilaku pemilihan aset finansial.

Dari penelitian Ernest Aryeetey (2004) di Gana, diperoleh gambaran bahwa secara umum rumah tangga pedesaan di Gana memiliki kecenderungan untuk memilih aset produktif dibandingkan dengan aset finansial. Kecerendungan pemilihan aset dalam alokasi  dana tersebut berkorelasi dengan  posisi kemakmuran (wealth position) rumah tangga yang bersangkutan. Alasan mengapa masyarakat pedesaan di Gana tersebut cenderung memilih aset  non finansial karena biaya kepemilikan aset tersebut dan aksesibilitas terhadap lembaga keuangan.  Sementara itu di Australia sebagaimana dilaporkan Joanne Loundes (1999) bahwa tingkat saving masyarakat di perbankan dalam bentuk bank account lebih rendah dibanding jenis tabungan lain (saving vahicle) yang disebabkan oleh sistem perpajakan yang berlaku.

Dalam review Theory Investment Perspective  yang dilakukan  Terry Laundry (2003) dikemukakan bahwa di berbagai publikasi tentang  tujuan utama jangka panjang dari suatu investasi adalah persoalan  rate of return dan minimalisasi risiko.  Secara umum,  pada 2002 disimpulkan bahwa ekuitas secara fundamental masih overvalued dan tangible asset seperti emas dalam kurun waktu 15 tahun ke depan masih menjadi instrumen investasi yang cukup menarik. Sementara itu,  Obligasi Jangka pendek  secara konservatif memiliki hasil yang lebih baik. Sekalipun dari review tersebut secara tidak transparan menyebutkan bahwa aset riil (emas) lebih  menguntungkan bagi investor dalam horison waktu yang panjang, namun hal tersebut tidak selamanya demikian dan akan memberikan hasil yang paling baik bagi investor. 

Perilaku masyarakat dalam berinvestasi  tidak semata-mata ditentukan oleh risiko dan hasil, namun juga ada faktor lainnya, seperti preferensinya terhadap risiko.  Suatu instrumen investasi yang memiliki hasil yang tinggi tidak selamanya menjadi pilihan seorang investor, oleh karena investasi yang hasilnya tinggi juga memiliki risiko yang tinggi dan tidak semua investor suka pada risiko. Artinya bahwa  masing-masing investor memiliki preferensi yang berbeda terhadap risiko.  Investasi yang memiliki hasil yang tinggi tidak selamanya akan menarik bagi suatu investor karena investor yang tidak suka pada risiko, sementara investasi yang risikonya tinggi cenderung memiliki risiko yang tinggi pula.

 Trade off risiko dan hasil dalam suatu investasi  akan disikapi dengan jalan membentuk suatu kombinasi berbagai instrumen investasi. Kombinasi dari berbagai pilihan instrumen investasi merupakan suatu kesatuan dalam bentuk portfolio investasi. Portfolio investasi dibentuk dapat berupa kombinasi dari berbagai aset finansial, kombinasi aset riil, atau dalam bentuk kombinasi antara aset finansial dan aset riil. Portofolio investasi pada aset finansial, aset riil atau kombinasi antara keduanya akan memiliki risiko dan hasil yang tidak sama. 

Dalam kajian investasi sektor rumah tangga, pola pengeluaran kas yang bisa dibelanjakan dan yang bisa diinvestasikan  memiliki keterkaitan dengan  kepemilikan aset dan kewajiban (liability). Polkovnichenko (2002) dalam penelitiannya melalui survey of Consumer Finance pada rumah tangga di Amerika, menjelaskan bahwa  portofolio investasi rumah tangga di Amerika Serikat tidak terdiversifikasi secara baik.  Selain itu, juga dijelaskan bahwa rumah tangga  yang memiliki prospek akan cenderung memiliki pilihan yang baik pada suatu portfolio. Baik tidaknya pembentukan portfolio investasi rumah tangga disebabkan oleh beberapa faktor yang  tidak konsisten  antara human behavior dan  prediction of expected utility theory.  Hal yang penting yang ditunjukkan oleh Polkovnichenko adalah bahwa berdasarkan eksperimen ada beberapa fenomena yang cukup menarik yakni pembentukan portfolio disebabkan oleh  mental acoounting, loss averssion dan  variasi preferensi terhadap risiko.  Masyarakat atau investor akan memiliki kecenderungan yang didasarkan pada  gains dan losses.  Sebagaimana dijelaskan dalam cummulative prospect theory oleh Tversky dan Kahneman (1992, dalam  Polkovnichenko (2002),  bahwa portfolio yang tidak terdiversifikasi, secara kuantitatif konsisten terhadap kecenderungan optimalisasi prospect.

Persepsi dalam suatu pengambilan keputusan turut berkontribusi dalam pembentukan portfolio investasi.  Keputusan adalah suatu tahapan yang melalui persepsi yang dimiliki oleh pengambil keputusan dalam hal ini rumah tangga sebagai investor. Penjelasan model pengambilan keputusan yang rasional  telah banyak dikemukakan di berbagai literatur. Model pengambilan keputusan rasional adalah sebuah model yang menjelaskan  bagaimana seorang individu berperilaku memaksimalkan outcome. Teori pengambilan keputusan yang dikemukan oleh para pakar ekonomi didasarkan pada berbagai aksioma, bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara rasional dan konsisten, dalam rangka mencapai  utilitas atau profit yang maksimal yang mana informasi yang dibutuhkan untuk mengambil  keputusan bisa diakses secara bebas atau memerlukan biaya yang optimal. Selain itu, dalam teori pengambilan keputusan  didasarkan pada bahwa Problem is clear, pilihan diketahui (Options are known), Preferensi jelas dan konstan (Preferences are clear and constant), tidak ada kendala waktu dan biaya (No time or cost constraints are present). 

Berdasarkan pengalaman, manusia dalam mengambil keputusan tidak selalu rasional.  Theory of Decision Making mengemukakan bahwa  dalam  persoalan pengambilan keputusan, manusia memiliki  sekumpulan alternatif  dan sadar akan konsekuensi yang akan ditanggung.  Dalam pengambilan keputusan yang disadari tersebut  secara rasional, manusia akan  mencari hasil atau membuat keputusan  yang optimal.  Secara psikologi  dijelaskan beradasarkan suatu  penelitian  bagaimana seorang individu mengambil suatu keputusan. Pengambilan keputusan adalah suatu proses kognitif  yang memerankan  memori dan kontruksi konsep. Suatu pilihan akan diambil jika diharapkan (expected) akan memberikan hasil yang maksimal. Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa pengambil keputusan akan memilih suatu pilihan yang  memberikan ekspektasi yang maksimum. Dalam studi perilaku  konsumen yang juga dipandang mampu menjelaskan perilaku konsumen dalam bidang  keuangan dijelaskan (Olson dan Peter,  2000) bahwa  ada beberapa faktor yang berkontribusi menentukan pengambilan keputusan. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan kedalam faktor yang ada atau melekat pada diri pengambil keputusan dan Faktor yang ada diluar pengambil keputusan. Faktor yang ada diluar pengambil keputusan yakni karakteristik jenis investasi. Sedangkan yang melekat pada diri pengambil keputusan adalah faktor pribadi dan faktor psikologis.      

Secara ekonomis, pembentukan portfolio investasi rumah tangga dilakukan dengan mengatur atau mengelola pendapatan yang diterima baik pendapatan tetap maupun dari pendapatan tambahan.  Pengelolaan pendapatan tersebut akan tercermin dalam strategi alokasi pendapatan tetap meliputi alokasi untuk tabungan, aktiva tetap dan aktiva finansial lainnya. Variasi pembentukan portofolio investasi sebagai dampak dari strategi alokasi pendapatan  ditentukan oleh banyak faktor.  Seperti studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Stanford University, Carnigie Mellon University dan Iowa University. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi  keputusan memilih instrumen investasi (Financial Prodential) adalah aspek psikis. Dalam penelitian yang dilakukan secara eksperimen tersebut dijelaskan bahwa emosi dapat  mempengaruhi keputusan  keuangan prudensial. 

Berdasarkan pada uraian di atas dapat ditarik beberapa permasalahan bahwa  alokasi sumberdaya yang dimiliki oleh rumah tangga ke dalam suatu portfolio investasi (Household’s invetsment) bervariasi. Variasi terbentuknya portfolio investasi tersebut ditentukan oleh lebih dari satu faktor, antara lain faktor demografi, psikologis dan geografis.

ads

Ditulis Oleh : ericson damanik Hari: 08.55 Kategori:

 

Blogger news

Pengikut